WARTA SUNDA ONLINÉ

BENTANG TAMU / BINTANG TAMU

Milangkala Ka-84 SMPN 1 Purwakarta, Spensa Ngukir Lalampahan Panjang Atikan jeung Prestasi

Milangkala Ka-84 SMPN 1 Purwakarta, Spensa Ngukir Lalampahan Panjang Atikan jeung Prestasi Purwakarta – Warta Sunda Online ,- Sakola Menenga...

CAMPALA MEDAR

"Urang Sunda kudu reueus kana karuhun. Ti Salakanagara nepi ka Pajajaran, Sunda geus ngawangun peradaban Nusantara. Jaga budaya, hirupkeun warisan pikeun generasi kiwari.” #UrangSunda #BudayaSunda #SajarahSunda #BanggaJadiSunda #KarajaanSunda #WarisanKaruhun #GenerasiSunda #NgajagaBudaya #SundaNgahiji #ReueusSunda

Mbah Anda dan Air Kahuripan Gunung Salak: Ikhtiar Nyageurkeun Buana dina Tatanan Tri Tangtu



Mbah Anda dan Air Kahuripan Gunung Salak: Ikhtiar Nyageurkeun Buana dina Tatanan Tri Tangtu


BOGOR – Warta Sunda Online

Dalam pandangan kosmologi Sunda, alam semesta tersusun atas tiga lapisan utama: Buana Nyungcung, yakni alam luhur tempat nilai ketuhanan dan cahaya batin dipercaya bersemayam; Buana Panca Tengah, alam kehidupan manusia tempat ikhtiar dan tanggung jawab dijalankan; serta Buana Larang, alam dasar yang melambangkan kekuatan alamiah yang harus dijaga dan tidak boleh dilanggar secara serampangan. Ketika keseimbangan ketiganya terganggu, alam diyakini akan memberi tanda.


Keresahan itulah yang dirasakan Mbah Anda, seorang kuncen sekaligus tabib tradisional yang selama bertahun-tahun dipercaya menjaga Air Kahuripan di kawasan Gunung Salak, Bogor. Air Kahuripan—yang secara harfiah dimaknai sebagai “air kehidupan”—dipandang bukan sekadar sumber air fisik, melainkan simbol penyambung antara kehendak Ilahi di Buana Nyungcung dan ikhtiar manusia di Buana Panca Tengah.


Sejak tahun 2020, Desa Gunung Picung, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, disebut telah mengirimkan surat kepada Presiden Republik Indonesia. Surat tersebut berisi pesan moral yang diyakini bersumber dari Raden Seh Maulana Waliyullah Gunung Salak, sebagai pangeling agar manusia kembali eling kana asal-usul kahirupan dan tidak memutus hubungan batin dengan alam.


Dalam keyakinan Mbah Anda, cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan yang kian sering terjadi hari ini bukan semata persoalan teknis, melainkan cerminan rengatnya hubungan manusia dengan tatanan buana. Ketika Buana Panca Tengah dieksploitasi tanpa adab, Buana Larang akan bereaksi, dan Buana Nyungcung seolah “menegur” melalui berbagai peristiwa alam.


Ieu lain saukur urusan cai pikeun jalma gering. Ieu urusan panyageurkeun deui hubungan manusa jeung alam,” ujar Abah Anda, yang mewakili keluarga. Menurutnya, ketika keseimbangan buana terganggu, dampaknya pertama kali dirasakan oleh manusia sendiri.


Kosmologi Sunda juga mengenal konsep Tri Tangtu di Buana, yakni keseimbangan tiga peran utama dalam kehidupan: Resi, penjaga nilai spiritual dan kebijaksanaan batin; Ratu, pemegang kuasa dan kebijakan yang bertugas menata kehidupan dengan keadilan; serta Rama, rakyat sebagai pelaku utama kehidupan sehari-hari. Ketiganya dipandang harus saling mendengar dan berjalan selaras agar tatanan buana tetap ajegg. 


Dalam kerangka Tri Tangtu inilah Mbah Anda berharap dapat bertemu dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang dipandang sebagai representasi Ratu—pemimpin yang mampu menyerap suara spiritual (Resi) dan merasakan denyut kehidupan masyarakat (Rama). Tanpa keselarasan ketiga unsur tersebut, upaya penyembuhan alam diyakini hanya akan berjalan setengah jalan.


Gunung Salak sendiri, dalam tradisi Sunda, kerap dipahami sebagai mandala luhur, yakni kawasan yang memiliki nilai spiritual tinggi karena posisinya sebagai penghubung antara bumi dan langit. Dari ruang sakral inilah Mbah Anda meyakini pesan tentang keseimbangan alam dititipkan untuk disampaikan kepada para pemangku kebijakan.


Bagi Mbah Anda, ikhtiar menyalurkan Air Kahuripan bukanlah ritual semata, melainkan usaha mulangkeun tatanan buana ka jalur kasaimbangan, agar manusia, alam, dan nilai ketuhanan kembali ngahiji dina rasa. Dalam tujuan itulah ia berharap hadirnya dukungan negara, bukan untuk membenarkan keyakinan personal, melainkan untuk merawat kearifan lokal sebagai bagian dari upaya menjaga alam dan kehidupan bersama—menuju kaayaan rahayu, selamat lahir batin.***


Anto Sukanto/Jendri/Asep

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mbah Anda dan Air Kahuripan Gunung Salak: Ikhtiar Nyageurkeun Buana dina Tatanan Tri Tangtu"

Posting Komentar