Industri Genteng Desa Pamoyanan, Purwakarta: Dari Masa Kejayaan hingga Tantangan Modern
Industri Genteng Desa Pamoyanan, Purwakarta: Dari Masa Kejayaan hingga Tantangan Modern
PURWAKARTA - Warta Sunda Online,-
Industri genteng di Desa Pamoyanan, Kabupaten Purwakarta, merupakan salah satu sektor usaha tradisional yang telah bertahan sejak puluhan tahun lalu. Berdasarkan data desa, saat ini masih terdapat sekitar 12 pengusaha genteng yang aktif berproduksi.
Beberapa di antaranya adalah H. Bangbang (Padi Super), H. Uwen, H. Aka, H. Amud, H. Sodikin, H. Idar, H. Ahmid, serta Iwan, dan lainnya. Rata-rata para pengusaha ini telah menjalankan usahanya sejak era 1970-an, menjadikan industri ini sebagai warisan turun-temurun.
Siklus Bahan Baku Tanah Liat
Produksi genteng di Pamoyanan sangat bergantung pada ketersediaan tanah liat. Sistem penggalian dilakukan secara siklus sejak tahun 1970-an, di mana lahan yang digali akan dibiarkan hingga pulih, lalu digunakan kembali sekitar satu dekade kemudian, seperti pola 1970 digali, lalu kembali dimanfaatkan pada 1980, dan seterusnya.
Namun, saat ini ketersediaan bahan baku mulai menipis, menjadi salah satu tantangan utama bagi keberlanjutan industri ini.
Masa Kejayaan
Industri genteng Pamoyanan mencapai puncak kejayaan pada periode 1990 hingga 1995. Pada masa itu, produksi tinggi dan permintaan pasar sangat kuat, menjadikan banyak pengusaha berkembang pesat.
Persaingan dan Perubahan Pasar
Memasuki era 1980 hingga 2000, industri genteng mulai mengalami tekanan akibat munculnya produk alternatif seperti loster (ventilasi beton), yang perlahan menggeser permintaan genteng tradisional.
Perkembangan Harga
Dari sisi harga, genteng tradisional pada masa lalu tergolong terjangkau:
Genteng glasur: sekitar Rp3.000 per buah
Genteng biasa: sekitar Rp1.500 per buah
Sementara itu, per April 2026, harga genteng—khususnya jenis keramik—mengalami peningkatan signifikan:
Per buah: Rp5.000 hingga Rp16.500 (tergantung merek, warna, dan jenis)
Merek populer seperti Kanmuri, M-Class, dan KIA dibanderol sekitar Rp8.000–Rp13.000
Per meter persegi: sekitar Rp120.000–Rp150.000
Tantangan ke Depan
Meski masih bertahan, industri genteng di Pamoyanan kini menghadapi berbagai taberbaga, seperti :
- Keterbatasan bahan baku
- Persaingan dengan material modern
- Perubahan selera pasar
Namun demikian, keberadaan para pengusaha yang tetap bertahan hingga kini menunjukkan bahwa industri ini masih memiliki potensi untuk terus hidup, terutama jika mampu beradaptasi dengan inovasi dan kebutuhan pasar modern.*
0 Response to "Industri Genteng Desa Pamoyanan, Purwakarta: Dari Masa Kejayaan hingga Tantangan Modern"
Posting Komentar